Sabtu, 07 November 2009

jika ada saat untuk merenung, ku harap saat itu adalah saat ini
kalau sempat aku menyesal, sekanglah waktunya
atau hanya sekedar menyadari betapa konyolnya hal yang ku anggap prinsip itu.
ku harap itu adalah sekarang

karena setelah hari ini aku takkan lagi punya kesempatan tuk sekedar terdiam dan menatap langit.
hari setelah hari ini adalah hari yang dimana pertanyaan tak lagi berguna
dan kenyataan ada di depan mata
siap tuk menerkamku, dan mengubur mimpi ku hidup-hidup

jika aku ingin menangis harus saat ini juga
atau esok aku takkan lagi punya airmata

aku benci esok
aku benci harus menghadapinya

esok adalah hari dimana aku harus menjadi seorang wanita dewasa
esok takkan ada lagi kemanjaan
tak ada lagi tangis
yang ada hanyalah tuntutan
dan ku benci harus memenuhi panggian tuntutan itu

mengapa tak bisa ku jalani dunia ku sendiri saja?
tanpa harus peduli pada dunia di luar sana
tanpa harus mendengar ada suara lain selain suaraku
tanpa harus menyadari kalau ada hal2 lain yang sangat penting dalam tahapan hidup

aku mau tetap begini
tetap seperti hari ini
dengan langit yang sama
dengan tatapan kosong yang sama
dengan semilir angin kehampaan yang sama

dan tak ada yang perlu berubah

Minggu, 18 Oktober 2009

Terhembus dan kuhirup dalam
Wangi yang mengurai memory
Keharuman  yang sama , yang pernah tersimpan dalam ingatan
Dan aku kembali termenung sejenak untuk mengingat masa itu.

Manis,
Tak indah namun terukir begitu dalam.
Kita tak kan tahu...
kapan kita akan pergi

Bahkan saat kita sudah bosan hidup
Dan meminta penjemput kita datang

Saat nafas mulai terengah
dimana sang penjemput menghampiri dan berbisik lirih

namun mulai lah rasa sakit untuk yang terakhir
dan mulialah bercakap-cakap dengan detak kita,,,
Sudah habis waktu mu berjuang, kini marilah kita tengok taman yang lain,
di sana lihatlah, beristirahatlah di taman penuh bunga

Dan cukuplah lelah itu
Dan habislah nafas yang terputus
Dan musnahlah tangis

Tapi pantaskah aku untuk sekedar melihatnya sekilas saja?
Ataukah aku termasuk kelompok orang yang banyak menganiaya diri?








Hanya Jika

JIka aku adalah jiwa yang bebas
BIarkan ku rentang sayapku merengkuh segenap udara tanpa batas
Jika aku adalah jiwa yang bebas
Maka kan ku terjang pagar yang mengekang
Dan tiap batang jeruji itu ku leleh-leburkan
Jika aku adalah jiwa yang bebas
Maka segala aturan omong kosong itu bukanlah untukku
Dan langkah kaki, tatap mata, senyum dan tawa
Itu semua adalah milikku
Dan jika aku adalah aku
Maka kan kuberi nama jiwaku dengan plakat kebebasan

Selasa, 18 Agustus 2009

Ramadhan ini

Aku merasakan ke-Maha Agung-an Mu mendekati . dan aku tak sanggup menampungnya.
Bilangan cahaya yang tak terhingga menyiratkan segala Nama-Mu.
Aku hanya sanggup bersimpuh,,meski pun menangis, memohon ,aku meraba lemahnya hati ku,,ya Allah.
Tak kuasa aku atas apa yang ku minta dan ku mohonkan pada-Mu sebelum saat ini datang.
Telah dekat saatnya ingin ku rangkul dan ku dekap erat seluruhnya. Sampai saatnya kini ku sadari aku tak akan mampu bahkan untuk menatapnya menghampiri ku.
Aku tertunduk dan lemah dalam ketiadaan daya ku.
Aku menangis, namun tak cukup pula untuk meluapkan rasa gentar ku. Aku seperti anak kecil , tersudut dan begitu takut.
Sanggupkah aku, menyambut curahan Kasih sayang –Mu?
Kuatkah aku menggapai ampunan-Mu?
Dan pantaskah aku mendapatkan apa yang Kau janjikan bagi orang-orang yang mencintai-Mu dan Kau mencintai mereka?

Ampuni aku ,ya Allah…
Hanya air mata yang tertumpah membasahi wajah ku yang tertunduk malu ini.
Aku sungguh tak pantas…
Aku sungguh tak merasa pantas.
Dan aku tak mampu…
Saat segala Nama-Mu terangkum dan menyelimuti.
Kau-lah Cahaya di atas Cahaya.

Ramadhan ini, ya Allah.
Ijinkanlah aku.
Sedikit saja merengkuh nikmat air mata dalam sujud ku pada-Mu.

Selasa, 21 Juli 2009

Membekukan Waktu

Pagi tak pernah dingin di Juli-nya Emirate.
Sampai batas awal Juni lalu aku tak pernah mau melewatkan detik-detik terbit surya dari batas cakrawala dimana laut Ajman dan kaki langit berjumpa.
Sampai mataku tak lagi sanggup menantangnya, aku akan terus terdiam menikmati perak dan emasnya fajar.

Namun kini aku tak pernah lagi sanggup memandang mentari. Aku berpura-pura menyibukkan diri berbincang dengan perkakas dapur, sapu, alat pel, percikan air, setrika, dan baju-baju ku – hal yang sebelumnya enggan ku lakukan, kecuali sangat terdesak.
Bersama debu-debu di balkon kamar pun, aku tak mau menatap batas cakrawala merah yang ada di depan mata itu lagi.

Aku berharap pagi ini segera pergi dan berganti malam.
Bersama malam pun aku tak mau lagi mencari kemana Jupiter menitikkan orbitnya hari ini.
Aku ingin malam ini cepat berlalu.
Aku hanya tertunduk dan menyibukkan diri, berharap waktu cepat berganti.

Namun teriknya musim panas di jelang Ramadhan ini pun tak mau mencairkan waktu.
Detik yang terlewat begitu lambat bergerak.
Sebekunya hatiku, waktu ikut membeku.
Padahal bersama 1 detik menguap nya tetes air di jajaran padang gersang ini telah ku uapkan pula senyumku.
Dan tak ada lagi sisa yang tertinggal, aku tak berhasrat lagi untuk sekedar mengukir satu senyum saja, senyum dari lubuk hati yang jujur.
Ribuan topeng ku pampangkan untuk tutupi hambarnya hari, namun tetap saja aku bukan aktor yang handal.

Kehampaan itu tetap ada disini.
Jika saja aku bisa mengalirkan satu tetes saja air mata. Namun aku masih saja bisu, begitu juga jiwaku.
Hanya ingin jalani saja.
Toh, aku tak mampu menembus dimensi, bahkan untuk meyakinkan jiwaku pun aku tak mampu.
Kalau ada yang harus ku tatap, itu pasti adalah wujud kekosongan yang beku.

Minggu, 12 Juli 2009

Lembaran ini tak mewakili apa2, selain tumpahan otakku yang kosong.
Tulisan ini tak mewakili apapun, selain gambaran kehampaan.
Setitik Debu.
Segores luka, setetes air mata, setapak jejak.
Selembar kisah.


Terjuntai setangkai mimpi menyapaku. Menghadiahkan aku seulas senyum jujur, begitu tulus ku rasa bahagia saat itu. Tapi takkan mudah jalan tuk meraihnya.
Karena mimpi itu terjuntai dari lapis langit, sedangkan aku masih tepekur saja merajut jiwaku yang masih rapuh.
Dan masih ku rapikan sayap2 lemahku. Penuh harap ku tatap langit.
Dan ku tengok lagi semangat ku yang luluh. Sanggupkah aku menggapai angan yang terletak tinggi di atas sana?
Semilir sang bayu mengusap luka, dan sedetik kemudian cahaya surya menantangku. Seolah beribu Tanya menghujam, mengapa aku masih disini, belum beranjak dari dunia ilusi? Dan sekali lagi ku tengok sayap2 rapuhku. Namun waktu tak mau menunggu. Tak ada kesempatan tuk bertanya. Siap atau tidak, aku akan menjejakkan tapak terakhir, dan membumbung tinggi mengangkasa.

satu tulisan kosong untuk satu keraguan yang samar