Disini jasadku teronggok, bersama nafas yang terengah dalam udara yang menipis terkikis. Namun tak bisa ku katakan dimana jiwa ku, kemana ia pergi, melayang entah mencari apa. Mungkin ia menggantungkan mimpi-mimpi ku ke lapis langit. Bersama bilangan musim yang menghembuskan angin dingin Desember-nya, aku masih menghitung mundur. Kapan saat itu akan datang lebih cepat padaku? Dan apakah yang menantiku di hadapan kelak? Adakah secercah harapan yang mengembangkan senyum ku esok ? Atau hanya kelam yang sama yang kan ku temui lagi? Kejemuan yang sama yang hanya berganti pakaian. Dan pikiran-pikiran yang tak nyata ini akan terus lahir.
Hari seperti apa esok itu?
Apa yang telah disiapkan hidup untukku?
Karena aku tak pernah menyiapkan apa-apa untuk kehidupan.
Masihkan aku diberi kesempatan, untuk bisa mengukir namaku pada wajah dunia?
Sabtu, 05 Desember 2009
Tetap
Jika saja setiap aku buka mata di pagi hari, saat aku masih menanti terbitnya mentari, aku bisa melihat batas garis antara dunia nyata yang harus ku hadapi, mungkin aku takkan seperti ini.
Kembali terduduk memandang dan hanya bisa menunggu. Ku bernafas, berjalan tanpa jiwa. Masih mencari makna hadirku di dunia.
Untuk apa aku lahir, untuk apa aku hidup, hanya untuk menunggu kematian datang menjamputku. Lalu mengapa ia tak datang lebi cepat saja menjemput ku? Tak ada yang bisa ku maknai sampai saat ini. Jalan ini masih jalan kosong yang kemarin, jalan yang sepi bahkan tanpa semilir angin.
Saat malam begitu ramai oleh hiasan taburan bintang galaksi, saat pagi begitu semarak oleh dendang ranting2 yang dikoyak kicau burung, saat siang begitu disengat kesombongan sang surya, saat senja merendahkan lembayungnya, mengapa hatiku masih saja beku?
Aku tak pernah berubah, masih saja hati yang keras, dingin dan beku.
Masih pada langkah yang sama, masih berpijak pada batas dunia ilusi.
Tak mau beranjak. Tetap pada sisi hampa.
Dan biarkan aku sendiri.
Kembali terduduk memandang dan hanya bisa menunggu. Ku bernafas, berjalan tanpa jiwa. Masih mencari makna hadirku di dunia.
Untuk apa aku lahir, untuk apa aku hidup, hanya untuk menunggu kematian datang menjamputku. Lalu mengapa ia tak datang lebi cepat saja menjemput ku? Tak ada yang bisa ku maknai sampai saat ini. Jalan ini masih jalan kosong yang kemarin, jalan yang sepi bahkan tanpa semilir angin.
Saat malam begitu ramai oleh hiasan taburan bintang galaksi, saat pagi begitu semarak oleh dendang ranting2 yang dikoyak kicau burung, saat siang begitu disengat kesombongan sang surya, saat senja merendahkan lembayungnya, mengapa hatiku masih saja beku?
Aku tak pernah berubah, masih saja hati yang keras, dingin dan beku.
Masih pada langkah yang sama, masih berpijak pada batas dunia ilusi.
Tak mau beranjak. Tetap pada sisi hampa.
Dan biarkan aku sendiri.
Sabtu, 07 November 2009
KAU
Saat ada yang berkata manis padaku
saat ada yang benar-benar membuatku bangga dengan kata-katanya
saat ada yang menghampiriku dengan sepenuh hatinya
saat ada yang menggenggam sekepal harapan dan berniat membaginya bersamaku
kenapa dia itu bukan kau?
saat mereka itu ada nyata di depan ku
saat mereka itu berusaha di sampingku
saat mereka bersedia melihat tangisku, dan mendengar tawaku
kau dimana?
aku menyanjungmu ke tempat tertinggi dalam sudut jiwaku
aku memberimu satu ruang yang penuh dengan namamu
dan aku tak mau ruang itu diisi nama yang lain
namun nama manakah yang kau sanjung?
dan dimanakah letak namaku ?
saat ada yang benar-benar membuatku bangga dengan kata-katanya
saat ada yang menghampiriku dengan sepenuh hatinya
saat ada yang menggenggam sekepal harapan dan berniat membaginya bersamaku
kenapa dia itu bukan kau?
saat mereka itu ada nyata di depan ku
saat mereka itu berusaha di sampingku
saat mereka bersedia melihat tangisku, dan mendengar tawaku
kau dimana?
aku menyanjungmu ke tempat tertinggi dalam sudut jiwaku
aku memberimu satu ruang yang penuh dengan namamu
dan aku tak mau ruang itu diisi nama yang lain
namun nama manakah yang kau sanjung?
dan dimanakah letak namaku ?
jika ada saat untuk merenung, ku harap saat itu adalah saat ini
kalau sempat aku menyesal, sekanglah waktunya
atau hanya sekedar menyadari betapa konyolnya hal yang ku anggap prinsip itu.
ku harap itu adalah sekarang
karena setelah hari ini aku takkan lagi punya kesempatan tuk sekedar terdiam dan menatap langit.
hari setelah hari ini adalah hari yang dimana pertanyaan tak lagi berguna
dan kenyataan ada di depan mata
siap tuk menerkamku, dan mengubur mimpi ku hidup-hidup
jika aku ingin menangis harus saat ini juga
atau esok aku takkan lagi punya airmata
aku benci esok
aku benci harus menghadapinya
esok adalah hari dimana aku harus menjadi seorang wanita dewasa
esok takkan ada lagi kemanjaan
tak ada lagi tangis
yang ada hanyalah tuntutan
dan ku benci harus memenuhi panggian tuntutan itu
mengapa tak bisa ku jalani dunia ku sendiri saja?
tanpa harus peduli pada dunia di luar sana
tanpa harus mendengar ada suara lain selain suaraku
tanpa harus menyadari kalau ada hal2 lain yang sangat penting dalam tahapan hidup
aku mau tetap begini
tetap seperti hari ini
dengan langit yang sama
dengan tatapan kosong yang sama
dengan semilir angin kehampaan yang sama
dan tak ada yang perlu berubah
kalau sempat aku menyesal, sekanglah waktunya
atau hanya sekedar menyadari betapa konyolnya hal yang ku anggap prinsip itu.
ku harap itu adalah sekarang
karena setelah hari ini aku takkan lagi punya kesempatan tuk sekedar terdiam dan menatap langit.
hari setelah hari ini adalah hari yang dimana pertanyaan tak lagi berguna
dan kenyataan ada di depan mata
siap tuk menerkamku, dan mengubur mimpi ku hidup-hidup
jika aku ingin menangis harus saat ini juga
atau esok aku takkan lagi punya airmata
aku benci esok
aku benci harus menghadapinya
esok adalah hari dimana aku harus menjadi seorang wanita dewasa
esok takkan ada lagi kemanjaan
tak ada lagi tangis
yang ada hanyalah tuntutan
dan ku benci harus memenuhi panggian tuntutan itu
mengapa tak bisa ku jalani dunia ku sendiri saja?
tanpa harus peduli pada dunia di luar sana
tanpa harus mendengar ada suara lain selain suaraku
tanpa harus menyadari kalau ada hal2 lain yang sangat penting dalam tahapan hidup
aku mau tetap begini
tetap seperti hari ini
dengan langit yang sama
dengan tatapan kosong yang sama
dengan semilir angin kehampaan yang sama
dan tak ada yang perlu berubah
Minggu, 18 Oktober 2009
Kita tak kan tahu...
kapan kita akan pergiBahkan saat kita sudah bosan hidup
Dan meminta penjemput kita datang
Saat nafas mulai terengah
dimana sang penjemput menghampiri dan berbisik lirih
namun mulai lah rasa sakit untuk yang terakhir
dan mulialah bercakap-cakap dengan detak kita,,,
Sudah habis waktu mu berjuang, kini marilah kita tengok taman yang lain,
di sana lihatlah, beristirahatlah di taman penuh bunga
Dan cukuplah lelah itu
Dan habislah nafas yang terputus
Dan musnahlah tangis
Tapi pantaskah aku untuk sekedar melihatnya sekilas saja?
Ataukah aku termasuk kelompok orang yang banyak menganiaya diri?
Dan habislah nafas yang terputus
Dan musnahlah tangis
Tapi pantaskah aku untuk sekedar melihatnya sekilas saja?
Ataukah aku termasuk kelompok orang yang banyak menganiaya diri?
Hanya Jika
JIka aku adalah jiwa yang bebas
BIarkan ku rentang sayapku merengkuh segenap udara tanpa batas
Jika aku adalah jiwa yang bebas
Maka kan ku terjang pagar yang mengekang
Dan tiap batang jeruji itu ku leleh-leburkan
Jika aku adalah jiwa yang bebas
Maka segala aturan omong kosong itu bukanlah untukku
Dan langkah kaki, tatap mata, senyum dan tawa
Itu semua adalah milikku
Dan jika aku adalah aku
Maka kan kuberi nama jiwaku dengan plakat kebebasan
BIarkan ku rentang sayapku merengkuh segenap udara tanpa batas
Jika aku adalah jiwa yang bebas
Maka kan ku terjang pagar yang mengekang
Dan tiap batang jeruji itu ku leleh-leburkan
Jika aku adalah jiwa yang bebas
Maka segala aturan omong kosong itu bukanlah untukku
Dan langkah kaki, tatap mata, senyum dan tawa
Itu semua adalah milikku
Dan jika aku adalah aku
Maka kan kuberi nama jiwaku dengan plakat kebebasan
Langganan:
Postingan (Atom)
