Mengapa aku bersedih
Aku terdiam
Aku kehilangan semangat
Aku meneteskan air mata
Dan bahkan aku tak ingin hidup
Aku slalu bertanya
Dan tak pernah menemukan jawaban
Sampai aku tak ingin lagi bertanya, dan aku tak butuh jawaban itu lagi
Aku hanya sesosok manusia yang tak pernah bisa menerima apa yang Tuhan anugerahkan, apa yang telah Tuhan tentukan.
Aku ingin smuanya berjalan seperti yang ku mau
Namun pada akhirnya tak satupun....
Dan bisakah lagi aku berharap bahwa aku bisa mewujudkan satu mimpi saja ?
Agar aku mau terbangun dari dunia mimpi ku , beralih menatap dunia nyata yang sangat ku benci itu ?
Agar aku mulai membenci 'tuk menyemai senyum di alam ilusi
Sejenak ku tersadar
Aku tak pernah mendapatkan apa yang ku inginkan, namun Tuhan s'lalu memberikan apa yang ku butuhkan
Dan seharusnya kalimat itu sudah cukup membari jawaban
Namun apakah yang bisa memuaskan jiwa yang tak pernah merasa cukup ini ?
sampai kini ku masih bersemayam dalam semboyan : HIdup itu menunggu mati
Senin, 07 Desember 2009
Minggu, 06 Desember 2009
Never Think
I should never think
What's in your heart
What's in our home
So I won't
You'll learn to hate me
But still call me baby
Oh, love
So call me by my name
And save your soul
Save your soul
Before you're too far gone
Before nothing can be done
I'll try to decide when
She'll lie in the end
I ain't got no fight in me
In this whole damn world
Tell you to hold off
You choose to hold on
It's the one thing that I've known
Once I put my coat on
I'm coming out in this all wrong
She's standing outside holding me
Saying, 'Oh, please
I'm in love
I'm in love'
Girl save your soul
Go on save your soul
Before you're too far gone
Before nothing can be done
'Cause without me
You got it all
So hold on
Without me you got it all
So hold on
Without me you got it all
Without me you got it all
So hold on
Sabtu, 05 Desember 2009
Intuisi
Lagu ini membawa jiwaku mengingat kembali, bahwa ada sisi lain yang berusaha ku buang dalam pikiran ku. Dan aku tak ingin bagian yang tak rasional itu ada dalam kepala ku. Namun saat bagian itu terbuka, aku tak bisa mengendalikan logika ku. Dan ternyata justru ia bisa menguasai bawah sadarku. Dan aku tak tahu apa, atau mengapa.
Dan ini hanya tentang dunia bayang-bayang.
Mungkin tentang bayang yang seolah ku kenal jauh dan dalam, seperti menembus batas dunia nyata ku, dan kilasan acak itu menampakkan pada otakku tentangnya. Adakah bayang itu membawaku 'tuk berfikir. Setidaknya mengurutkan dan berusaha memahami apa yang berusaha dijelaskannya padaku.
Seolah sedang memberi jawaban segala pertanyaan ku.
Dan ini hanya tentang dunia bayang-bayang.
Mungkin tentang bayang yang seolah ku kenal jauh dan dalam, seperti menembus batas dunia nyata ku, dan kilasan acak itu menampakkan pada otakku tentangnya. Adakah bayang itu membawaku 'tuk berfikir. Setidaknya mengurutkan dan berusaha memahami apa yang berusaha dijelaskannya padaku.
Seolah sedang memberi jawaban segala pertanyaan ku.
Seperti Apa Esok itu?
Disini jasadku teronggok, bersama nafas yang terengah dalam udara yang menipis terkikis. Namun tak bisa ku katakan dimana jiwa ku, kemana ia pergi, melayang entah mencari apa. Mungkin ia menggantungkan mimpi-mimpi ku ke lapis langit. Bersama bilangan musim yang menghembuskan angin dingin Desember-nya, aku masih menghitung mundur. Kapan saat itu akan datang lebih cepat padaku? Dan apakah yang menantiku di hadapan kelak? Adakah secercah harapan yang mengembangkan senyum ku esok ? Atau hanya kelam yang sama yang kan ku temui lagi? Kejemuan yang sama yang hanya berganti pakaian. Dan pikiran-pikiran yang tak nyata ini akan terus lahir.
Hari seperti apa esok itu?
Apa yang telah disiapkan hidup untukku?
Karena aku tak pernah menyiapkan apa-apa untuk kehidupan.
Masihkan aku diberi kesempatan, untuk bisa mengukir namaku pada wajah dunia?
Hari seperti apa esok itu?
Apa yang telah disiapkan hidup untukku?
Karena aku tak pernah menyiapkan apa-apa untuk kehidupan.
Masihkan aku diberi kesempatan, untuk bisa mengukir namaku pada wajah dunia?
Tetap
Jika saja setiap aku buka mata di pagi hari, saat aku masih menanti terbitnya mentari, aku bisa melihat batas garis antara dunia nyata yang harus ku hadapi, mungkin aku takkan seperti ini.
Kembali terduduk memandang dan hanya bisa menunggu. Ku bernafas, berjalan tanpa jiwa. Masih mencari makna hadirku di dunia.
Untuk apa aku lahir, untuk apa aku hidup, hanya untuk menunggu kematian datang menjamputku. Lalu mengapa ia tak datang lebi cepat saja menjemput ku? Tak ada yang bisa ku maknai sampai saat ini. Jalan ini masih jalan kosong yang kemarin, jalan yang sepi bahkan tanpa semilir angin.
Saat malam begitu ramai oleh hiasan taburan bintang galaksi, saat pagi begitu semarak oleh dendang ranting2 yang dikoyak kicau burung, saat siang begitu disengat kesombongan sang surya, saat senja merendahkan lembayungnya, mengapa hatiku masih saja beku?
Aku tak pernah berubah, masih saja hati yang keras, dingin dan beku.
Masih pada langkah yang sama, masih berpijak pada batas dunia ilusi.
Tak mau beranjak. Tetap pada sisi hampa.
Dan biarkan aku sendiri.
Kembali terduduk memandang dan hanya bisa menunggu. Ku bernafas, berjalan tanpa jiwa. Masih mencari makna hadirku di dunia.
Untuk apa aku lahir, untuk apa aku hidup, hanya untuk menunggu kematian datang menjamputku. Lalu mengapa ia tak datang lebi cepat saja menjemput ku? Tak ada yang bisa ku maknai sampai saat ini. Jalan ini masih jalan kosong yang kemarin, jalan yang sepi bahkan tanpa semilir angin.
Saat malam begitu ramai oleh hiasan taburan bintang galaksi, saat pagi begitu semarak oleh dendang ranting2 yang dikoyak kicau burung, saat siang begitu disengat kesombongan sang surya, saat senja merendahkan lembayungnya, mengapa hatiku masih saja beku?
Aku tak pernah berubah, masih saja hati yang keras, dingin dan beku.
Masih pada langkah yang sama, masih berpijak pada batas dunia ilusi.
Tak mau beranjak. Tetap pada sisi hampa.
Dan biarkan aku sendiri.
Sabtu, 07 November 2009
KAU
Saat ada yang berkata manis padaku
saat ada yang benar-benar membuatku bangga dengan kata-katanya
saat ada yang menghampiriku dengan sepenuh hatinya
saat ada yang menggenggam sekepal harapan dan berniat membaginya bersamaku
kenapa dia itu bukan kau?
saat mereka itu ada nyata di depan ku
saat mereka itu berusaha di sampingku
saat mereka bersedia melihat tangisku, dan mendengar tawaku
kau dimana?
aku menyanjungmu ke tempat tertinggi dalam sudut jiwaku
aku memberimu satu ruang yang penuh dengan namamu
dan aku tak mau ruang itu diisi nama yang lain
namun nama manakah yang kau sanjung?
dan dimanakah letak namaku ?
saat ada yang benar-benar membuatku bangga dengan kata-katanya
saat ada yang menghampiriku dengan sepenuh hatinya
saat ada yang menggenggam sekepal harapan dan berniat membaginya bersamaku
kenapa dia itu bukan kau?
saat mereka itu ada nyata di depan ku
saat mereka itu berusaha di sampingku
saat mereka bersedia melihat tangisku, dan mendengar tawaku
kau dimana?
aku menyanjungmu ke tempat tertinggi dalam sudut jiwaku
aku memberimu satu ruang yang penuh dengan namamu
dan aku tak mau ruang itu diisi nama yang lain
namun nama manakah yang kau sanjung?
dan dimanakah letak namaku ?
jika ada saat untuk merenung, ku harap saat itu adalah saat ini
kalau sempat aku menyesal, sekanglah waktunya
atau hanya sekedar menyadari betapa konyolnya hal yang ku anggap prinsip itu.
ku harap itu adalah sekarang
karena setelah hari ini aku takkan lagi punya kesempatan tuk sekedar terdiam dan menatap langit.
hari setelah hari ini adalah hari yang dimana pertanyaan tak lagi berguna
dan kenyataan ada di depan mata
siap tuk menerkamku, dan mengubur mimpi ku hidup-hidup
jika aku ingin menangis harus saat ini juga
atau esok aku takkan lagi punya airmata
aku benci esok
aku benci harus menghadapinya
esok adalah hari dimana aku harus menjadi seorang wanita dewasa
esok takkan ada lagi kemanjaan
tak ada lagi tangis
yang ada hanyalah tuntutan
dan ku benci harus memenuhi panggian tuntutan itu
mengapa tak bisa ku jalani dunia ku sendiri saja?
tanpa harus peduli pada dunia di luar sana
tanpa harus mendengar ada suara lain selain suaraku
tanpa harus menyadari kalau ada hal2 lain yang sangat penting dalam tahapan hidup
aku mau tetap begini
tetap seperti hari ini
dengan langit yang sama
dengan tatapan kosong yang sama
dengan semilir angin kehampaan yang sama
dan tak ada yang perlu berubah
kalau sempat aku menyesal, sekanglah waktunya
atau hanya sekedar menyadari betapa konyolnya hal yang ku anggap prinsip itu.
ku harap itu adalah sekarang
karena setelah hari ini aku takkan lagi punya kesempatan tuk sekedar terdiam dan menatap langit.
hari setelah hari ini adalah hari yang dimana pertanyaan tak lagi berguna
dan kenyataan ada di depan mata
siap tuk menerkamku, dan mengubur mimpi ku hidup-hidup
jika aku ingin menangis harus saat ini juga
atau esok aku takkan lagi punya airmata
aku benci esok
aku benci harus menghadapinya
esok adalah hari dimana aku harus menjadi seorang wanita dewasa
esok takkan ada lagi kemanjaan
tak ada lagi tangis
yang ada hanyalah tuntutan
dan ku benci harus memenuhi panggian tuntutan itu
mengapa tak bisa ku jalani dunia ku sendiri saja?
tanpa harus peduli pada dunia di luar sana
tanpa harus mendengar ada suara lain selain suaraku
tanpa harus menyadari kalau ada hal2 lain yang sangat penting dalam tahapan hidup
aku mau tetap begini
tetap seperti hari ini
dengan langit yang sama
dengan tatapan kosong yang sama
dengan semilir angin kehampaan yang sama
dan tak ada yang perlu berubah
Langganan:
Postingan (Atom)

