“Halo..”
“Hay…”
“Apa kabar?”
Satu per satu ku sapa semua daftar on-line di daftar messenger ku. Aku begitu antusias melihat daftar messenger ku lumayan ramai sore ini.
Dua, tiga menit kutunggu, tak ada juga balasan. Mungkin mereka sibuk, pikirku. Ku coba lagi .
“Sibuk , ya?”
“Hm, ada orangnya gak nih ?”
Dan berbagai sapaan awal lainnya. Ku harap paling tidak ada satu saja diantara teman-teman ku itu membalas sapaan ku.
Lima menit , sepuluh, lima belas menit berlalu, tak satupun bergeming. Mereka bukan hanya sekedar teman yang ku temukan di dunia maya, di daftar room atau sejenisnya. Mereka yang ada di daftar ku itu semuanya adalah teman-teman dunia nyata yang kini sedang terpisah jarak begitu jauh denganku. Aku sendirian di kota ini. Dan mereka jauh di seberang lautan - tepatnya samudera. Terpisah benua. Dan tentunya berbeda waktu beberapa jam.
Kulirik waktu, dua puluh menit sudah, tak ada satupun teman yang membalas sapaan ku. Ku alihkan pandangan ku ke internet explorer. Kubuka Facebook, melihat perkembangan di jaringan sosial ku. Ramai, tapi tak satupun menyapaku. Status yang kubuat seminggu lalu dan belum ku ganti itu, sepi tanpa komentator.
Dengan sedikit rasa hambar, ku tutup jendela facebook, dan ku lihat e-mail pribadi ku. Inbox-nya kosong. Ku coba hibur diri
Aku mulai menimbang-nimbang. Dan akhirnya kuputus koneksi internet ku.
Aku matikan komputerku juga. Dan aku kembali ke meja kerja ku, namun bukan untuk bekerja. Aku melamun. Pikiran ku melayang jauh.
Sepi rasanya. Aku ramai, namun ramai itu bukan ramai ku. Telepon kantor dan telepon genggam ku pun terus berdering, namun aku tahu, bahkan sudah hapal dengan nomer-nomer yang muncul di layar telepon kantor & telepon genggamku itu. Hanyalah deretan nomer dari manusia-manusia yang sedang mengetukkan jari dengan tak sabar, menunggu aku menjawab telpon dari mereka. Aku benci pekerjaan ini. Harus berurusan dengan orang-orang keras kepala yang bahkan tak mau mendengar alasan dan penjelasan.
Mereka seharusnya tahu, bahwa aku disini menahan sakit di setiap langkah yang ku jejakkan. Bahwa aku bersyukur di setiap detik yang berlalu, karena itu artinya sisa waktu untuk tetap tinggal disini makin berkurang. Mereka harusnya tahu itu !
Tak seharusnya mereka selalu berteriak padaku seolah aku budak yang harus menuruti setiap perkataan tuannya, dan hanya bisa tertunduk mengiyakan setiap perkataan dan tindakan.
Sekarang hidup bagiku hanyalah jalan sunyi dan hampa saja. Lengang tanpa teman, sepi tanpa kawan. Toh, tak ada yang menganggap aku ini ada. Tak satupun dari mereka yang aku anggap teman, mau membalas sapaan ku. Dan ini bukan yang pertama kalinya bagiku. Jadi semuanya jelas sudah. Ini mungkin pilihan terbaik yang Tuhan pilihkan untukku. Hidup terasing, supaya aku menyadari arti hidup. Toh, di tengah keramaian pun tak ada yang melihat eksistensi ku.
Aku selalu menghitung mundur waktu, tapi untuk apa? Untuk pulang? Pulang kemana? Untuk apa? Untuk siapa? Dan apa hakekat pulang itu sebenarnya? Aku toh takkan pernah tau, jika mungkin detik ini adalah detik akhir ku diberi kesempatan untuk bernafas. Lalu hitungan mundur yang mana yang sedang kusyukuri? Pulang yang mana yang aku nanti ? pulang ke tempat aku seharusnya berada, atau pulang ke tempat seharusnya aku kembali ?
Senin, 08 Maret 2010
Senin, 01 Februari 2010
Sepatu Butut
Aku hanya sepatu butut. Yang tak hanya selalu terinjak, namun juga terbuang. Tak lagi berguna kini , hanya berselimut usang.
Adakah yang bersedia memungut ku ?
Aku akan senang sekali jika saja pemulung itu mau memasukkan ku ke dalam keranjangnya.
Lalu apa yang akan dia perbuat dengan ku selanjutnya?
Akankah dia hadiahkan aku sebagai penebus tangis sang anak yang kakinya terluka oleh sesampahan dimana mereka tinggal?
Akankah dia menjual aku ke tempat loak?
Atau hanya akan dilemparkan begitu saja ke tumpukan sampah di Bantar Gebang?
Aku muram kembali.
Harapan itu akan selalu ada. Namun bagiku, harapan itu selalu ada untuk dihancurkan dan dibunuh atau dikubur hidup-hidup.
Adakah yang bersedia memungut ku ?
Aku akan senang sekali jika saja pemulung itu mau memasukkan ku ke dalam keranjangnya.
Lalu apa yang akan dia perbuat dengan ku selanjutnya?
Akankah dia hadiahkan aku sebagai penebus tangis sang anak yang kakinya terluka oleh sesampahan dimana mereka tinggal?
Akankah dia menjual aku ke tempat loak?
Atau hanya akan dilemparkan begitu saja ke tumpukan sampah di Bantar Gebang?
Aku muram kembali.
Harapan itu akan selalu ada. Namun bagiku, harapan itu selalu ada untuk dihancurkan dan dibunuh atau dikubur hidup-hidup.
Biarlah Gelap ini Gelap ku
Ada rasa kemarahan yang berusaha ku tolak. Ada cemburu yang tak bisa ku terima bahwa aku sedang merasakannya. Ada rasa tersembunyi bahwa aku ingin di posisikan di tempat istimewa, bukan hanya di sisi gelap .
Aku tahu, bahwa aku, kau, kita adalah hal yang seharusnya menjadi satu dalam kebersamaan. Tapi entah kenapa, aku merasakan ketidakadilan sedang melintasi aku, dan bahkan tak mau pergi. Terus menggelayuti hari-hari ku, membayangi ku bagaikan hantu yang tak rela meninggalkan bumi .
Biarlah hitam ini hitamku, dan gelap ini gelapku. Di sisi ini aku berdiri. Di atas tanah dunia sepi. Tanpa kawan, tak butuh teman.
Dan aku melihat peri-peri mungil yang membawa senyum ku pergi . mereka tak lebih dari iblis bertopeng yang menyemai detik bahagia, dan mencabutnya di detik kedua , bersamaan dengan saat mereka menunjukkan siapa mereka sebenarnya.
Lagi, lagi , dan lagi. Aku harus menelan pahitnya kekecewaan ini sendiri. Tanpa sesiapapun yang bisa kuajak untuk sekedar menyesali atau bahkan menangis.
Dan hari ini adalah hari kemarin yang kembali bergulir. Bagiku takkan pernah ada hari baru. Hari yang berbeda dengan kemarin. Bagiku, hidup ini masih taman pekuburan sunyi. Jam- jam yang ku lalui adalah jalan setapak yang lengang namun penuh semak berduri. Aku tak ingin melaluinya, aku selalu melihat ke jalan yang telah lalu. Mungkinkah aku masih bisa beralri kembali mundur?
Namun hanya dapat ku lihat tanpa bisa ku tembus. Aku terjebak.
Aku tahu, bahwa aku, kau, kita adalah hal yang seharusnya menjadi satu dalam kebersamaan. Tapi entah kenapa, aku merasakan ketidakadilan sedang melintasi aku, dan bahkan tak mau pergi. Terus menggelayuti hari-hari ku, membayangi ku bagaikan hantu yang tak rela meninggalkan bumi .
Biarlah hitam ini hitamku, dan gelap ini gelapku. Di sisi ini aku berdiri. Di atas tanah dunia sepi. Tanpa kawan, tak butuh teman.
Dan aku melihat peri-peri mungil yang membawa senyum ku pergi . mereka tak lebih dari iblis bertopeng yang menyemai detik bahagia, dan mencabutnya di detik kedua , bersamaan dengan saat mereka menunjukkan siapa mereka sebenarnya.
Lagi, lagi , dan lagi. Aku harus menelan pahitnya kekecewaan ini sendiri. Tanpa sesiapapun yang bisa kuajak untuk sekedar menyesali atau bahkan menangis.
Dan hari ini adalah hari kemarin yang kembali bergulir. Bagiku takkan pernah ada hari baru. Hari yang berbeda dengan kemarin. Bagiku, hidup ini masih taman pekuburan sunyi. Jam- jam yang ku lalui adalah jalan setapak yang lengang namun penuh semak berduri. Aku tak ingin melaluinya, aku selalu melihat ke jalan yang telah lalu. Mungkinkah aku masih bisa beralri kembali mundur?
Namun hanya dapat ku lihat tanpa bisa ku tembus. Aku terjebak.
Satu Muara Jawaban (2)
Kalau ada yang akan bertanya hal apa yang ku benci
Hal terakhir yang ku inginkan di dunia
Nama yang paling ingin ku lupakan
Ingatan tentang seseorang yang tak pernah ku ingini
Dan semua pertanyaan itu akan bermuara di satu jawaban
: kau.
Kalau ada saat yang paling ku inginkan
Ada hari yang ingin ku hapuskan
Dimana detik waktu itu
Jawabnya : di satu hari dimana aku berjumpa dengan mu
Aku akan setegar karang
Namun siapa yang tahu bahwa aku hanyalah seonggok hati yang rapuh
Aku menerjang apapun yang menghadang
Namun siapa yang menyangka aku tak pernah bisa menghancurkan sisi ingatan ku tentang mu
Tak pernah ada yang mengenang ku indah
Aku figur yang angkuh dan keras
Tak akan ada yang mengukir namaku indah dalam ingatan mereka
Namun tiba kini saatnya
Untukku, di mana bahkan untuk menangis pun aku tak mampu.
Hal terakhir yang ku inginkan di dunia
Nama yang paling ingin ku lupakan
Ingatan tentang seseorang yang tak pernah ku ingini
Dan semua pertanyaan itu akan bermuara di satu jawaban
: kau.
Kalau ada saat yang paling ku inginkan
Ada hari yang ingin ku hapuskan
Dimana detik waktu itu
Jawabnya : di satu hari dimana aku berjumpa dengan mu
Aku akan setegar karang
Namun siapa yang tahu bahwa aku hanyalah seonggok hati yang rapuh
Aku menerjang apapun yang menghadang
Namun siapa yang menyangka aku tak pernah bisa menghancurkan sisi ingatan ku tentang mu
Tak pernah ada yang mengenang ku indah
Aku figur yang angkuh dan keras
Tak akan ada yang mengukir namaku indah dalam ingatan mereka
Namun tiba kini saatnya
Untukku, di mana bahkan untuk menangis pun aku tak mampu.
Satu Muara Jawaban (1)
Tak perlu lagi ku merenungi. Tak butuh aku bertanya, saat dimana kau bahkan tak disana.
Aku berharap kau ada disampingku.
Tak banyak yang ku ingin.
Senyum di wajahmu adalah pembasuh segala pedih pada jalan kehidupanku yang terik.
Cahaya yang terpancar dari hatimu adalah peneduh jiwaku yang rapuh.
Maaf itu tak seharusnya terlontar.
Maaf itu kupohon saat ku bercermin, dariku untuk diriku sendiri.
Maaf telah menyakiti, maaf telah mengaiaya.
Maaf ku pada hatiku karena mataku merindukanmu. Maafku pada mataku, karena hatiku merindukanmu.
Ku benci engkau, agar ku bisa menghapus bayangmu. Ku hapus bayangmu , agar bisa ku hilangkan semua ingatan ku akanmu.
Ku hapuskan segala ingatan tentangmu, agar bisa ku kubur mimpi-mimpi ku padamu.
Karena kau adalah segala mimpiku. Kaulah muara jawaban segala pertanyaan.
Aku berharap kau ada disampingku.
Tak banyak yang ku ingin.
Senyum di wajahmu adalah pembasuh segala pedih pada jalan kehidupanku yang terik.
Cahaya yang terpancar dari hatimu adalah peneduh jiwaku yang rapuh.
Maaf itu tak seharusnya terlontar.
Maaf itu kupohon saat ku bercermin, dariku untuk diriku sendiri.
Maaf telah menyakiti, maaf telah mengaiaya.
Maaf ku pada hatiku karena mataku merindukanmu. Maafku pada mataku, karena hatiku merindukanmu.
Ku benci engkau, agar ku bisa menghapus bayangmu. Ku hapus bayangmu , agar bisa ku hilangkan semua ingatan ku akanmu.
Ku hapuskan segala ingatan tentangmu, agar bisa ku kubur mimpi-mimpi ku padamu.
Karena kau adalah segala mimpiku. Kaulah muara jawaban segala pertanyaan.
Jumat, 01 Januari 2010
Aku Sendiri
Rentangkanlah tanganmu
Dan rasakanlah hembusan angin di bawah langit yang mendung..
Dan rintik hujan mulai melelehkan awan di atas Laut Teluk ini
Aku harus menyadari meski dalam pejaman mata
Bahwa aku adalah hal yang satu
Aku benar-benar sendiri
Aku berteman, namun berjalan tanpa tuntunan
Aku ramai, namun jiwaku sunyi
Aku harus menyadari, hari ini bukanlah kemarin
Dan semuanya tentang mimpi yang berusaha ku wujudkan
Dan semuanya bukan di tangan orang lain, hanya di genggamanku
Di atas kaki ku, di tautan pundakku
Aku sendiri..
Aku benar-benar tak punya naungan
Aku sendiri, dan aku harus sanggup menolong diriku sendiri
Dan rasakanlah hembusan angin di bawah langit yang mendung..
Dan rintik hujan mulai melelehkan awan di atas Laut Teluk ini
Aku harus menyadari meski dalam pejaman mata
Bahwa aku adalah hal yang satu
Aku benar-benar sendiri
Aku berteman, namun berjalan tanpa tuntunan
Aku ramai, namun jiwaku sunyi
Aku harus menyadari, hari ini bukanlah kemarin
Dan semuanya tentang mimpi yang berusaha ku wujudkan
Dan semuanya bukan di tangan orang lain, hanya di genggamanku
Di atas kaki ku, di tautan pundakku
Aku sendiri..
Aku benar-benar tak punya naungan
Aku sendiri, dan aku harus sanggup menolong diriku sendiri
Rabu, 16 Desember 2009
Nothing..
Tak ada senyum
Tak ada tawa
Tak ada ceria
Tak ada pedih
Tak ada sakit
Tak ada tangis
Tak ada duka
Hanya ...
Terdiam
Tanpa desir angin pun mau berhembus
Tanpa langit yang berwarna
Tanpa pijakan yang tak rapuh
Tanpa sandaran yang menopang
Tak ada tawa
Tak ada ceria
Tak ada pedih
Tak ada sakit
Tak ada tangis
Tak ada duka
Hanya ...
Terdiam
Tanpa desir angin pun mau berhembus
Tanpa langit yang berwarna
Tanpa pijakan yang tak rapuh
Tanpa sandaran yang menopang
Langganan:
Postingan (Atom)
