Sepenggal cerita dari Pembukuan hidup. Seperti satu cerita dari Yanti, kita tak bisa mengambil kesimpulan dari hanya satu kejadian yang terjadi dalam begitu banyak cerita yang telah, sedang dan akan terjadi dalam lembaran hidup kita.
Andai aku bisa menerawang masa datang, aku ingin berlari meraih nya.
Tapi hidup bukan andai-andai,,bukan angan semu,,bukan khayalan atau pun ilusi belaka.
Tinggalkan saja jiwa-jiwa lugu nan polos itu di belakang, biar mereka berlarian bersama imajinasi yang selalu menghiasai senyum kita, karena rantai waktu sedang menyeret kita, tanpa harus peduli apakah kita mengijinkannya atau tidak.
Mimpi itu hanya untuk penghias pejaman mata, dan saat kau membuka kembali mata mu, mimpi itu tak lagi ada. Dan mata yang terbuai mimpi itu telah kau simpan rapi, untuk kau buka kembali nanti. Tapi kini, tak butuh untuk mengurainya.
Tampilkan postingan dengan label Dream Land. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dream Land. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 April 2009
Selasa, 03 Maret 2009
Kalau Hanya Demi aku
kalau hanya demi aku, takkan ada bayang-bayang harapan.
Kalau hanya demi ku sendiri, hari ini sudah cukup bagiku. Tak perlu lagi hari esok, ataupun masa yang akan datang.
Kalau demi diri sendiri, seseorang takkan bermetamorfosis menjadi "seseorang".
Dan jika hanya untuk diri sendiri, tak akan ada ambisi dan obsesi.
Dan kemana arah langkah jika hanya untukku sendiri? Aku takkan pernah mau beranjak, takkan mau melangkah, apalagi berlari mengejar mimpi.
Aku mengabaikan lelah, mengacuhkan pedih jiwa, dan Tiada peduli pada duri dan kerikil tajam yang mengintai.
Aku melangkah Demi wajahku, yang harus berani menentang cahaya matahari.
Aku melangkah demi wajahku, yang menyimpan wajah-wajah yang kubingkai dalam figura darah....dan daging.
Demi wajahku yang rindu menatap wajah-Mu.
Kalau hanya demi ku sendiri, hari ini sudah cukup bagiku. Tak perlu lagi hari esok, ataupun masa yang akan datang.
Kalau demi diri sendiri, seseorang takkan bermetamorfosis menjadi "seseorang".
Dan jika hanya untuk diri sendiri, tak akan ada ambisi dan obsesi.
Dan kemana arah langkah jika hanya untukku sendiri? Aku takkan pernah mau beranjak, takkan mau melangkah, apalagi berlari mengejar mimpi.
Aku mengabaikan lelah, mengacuhkan pedih jiwa, dan Tiada peduli pada duri dan kerikil tajam yang mengintai.
Aku melangkah Demi wajahku, yang harus berani menentang cahaya matahari.
Aku melangkah demi wajahku, yang menyimpan wajah-wajah yang kubingkai dalam figura darah....dan daging.
Demi wajahku yang rindu menatap wajah-Mu.
Minggu, 01 Maret 2009
Kain Kebersahajaan
Kalau aku memang tak pantas menyandang jubah kebahagiaan yang gemerlap itu, maka cukuplah bagiku dengan kain yang bersahaja ini. Aku tak perlu bercermin mempertanyakan keindahannya. Aku telah merasakan perlindungan dan kenyamannya pada kulitku.
Kesederhanaan ini yang takkan pernah aku kan bersedia tuk menukarnya dengan apapun di dunia ini.
Karena kedamaian dan ketenangan hati yang menghiasai jiwaku ini sudah membuat aku merasa cukup dengan apa yang telah di karuniakan kepadaku. Dan satu kali saja aku kehilangannya, aku tak kan bisa merebutnya kembali.
Kesederhanaan ini yang takkan pernah aku kan bersedia tuk menukarnya dengan apapun di dunia ini.
Karena kedamaian dan ketenangan hati yang menghiasai jiwaku ini sudah membuat aku merasa cukup dengan apa yang telah di karuniakan kepadaku. Dan satu kali saja aku kehilangannya, aku tak kan bisa merebutnya kembali.
Kalau aku Harus Hidup?
Kalau aku harus hidup, aku harus menelan pahitnya perjuangan
Kalau aku dapat memilih, aku ingin hidup satu hari penuh kebahagiaan dibandingkan seribu tahun yang abadi dengan kebekuan, kesunyian dan kehampaan jiwa.
Sedetik nafas dalam naungan suka cita lebih berharga dibanding dengan satu tahun cahaya helaan nafas yang terbuang tuk mengeluh & menyesali takdir.
Namun sensitivitas nurani tak pernah berbicara dalam gelak tawa, wajah ceria & dunia yang penuh bahagia. Ia berbahasa dalam pekatnya malam, dinginnya kebekuan, dan peka terhadap luka, rasa sakit & kepedihan perjalanan kehidupan yang banyak menyimpan kerikil tajam & batu sandungan.
Bumi bukanlah negeri dongeng, tapi medan perjuangan & pengorbanan
Kalau aku dapat memilih, aku ingin hidup satu hari penuh kebahagiaan dibandingkan seribu tahun yang abadi dengan kebekuan, kesunyian dan kehampaan jiwa.
Sedetik nafas dalam naungan suka cita lebih berharga dibanding dengan satu tahun cahaya helaan nafas yang terbuang tuk mengeluh & menyesali takdir.
Namun sensitivitas nurani tak pernah berbicara dalam gelak tawa, wajah ceria & dunia yang penuh bahagia. Ia berbahasa dalam pekatnya malam, dinginnya kebekuan, dan peka terhadap luka, rasa sakit & kepedihan perjalanan kehidupan yang banyak menyimpan kerikil tajam & batu sandungan.
Bumi bukanlah negeri dongeng, tapi medan perjuangan & pengorbanan
Salam ...
Bila kau tatap julangan jajaran pegunungan itu sampaikan salamku pada kehijauan yang terhampar laksana permadani bertahtakan kilauan zamrud. Rekamlah segala kicauan merdu yang senandungkan lagu di tepian gemericik sumber yang mengalirkan damai & kesegaran yang tak ku temui di sini.
Setiap saat kerinduan akan negeri & orang-orang tercintaku mencengkeramku, kupejam mata dan kurasakan ku berada di tengah suasana itu, ku pejam mata karena hal-hal terindah di dunia ini adalah yang tak mampu mata tuk menjangkaunya. Hal terindah dalam dunia adalah hal-hal yang tak terlihat & tak terdengar, tak tertangkap oleh indera.
Setiap saat kerinduan akan negeri & orang-orang tercintaku mencengkeramku, kupejam mata dan kurasakan ku berada di tengah suasana itu, ku pejam mata karena hal-hal terindah di dunia ini adalah yang tak mampu mata tuk menjangkaunya. Hal terindah dalam dunia adalah hal-hal yang tak terlihat & tak terdengar, tak tertangkap oleh indera.
Dzaman. Moeda. Doeloe.
Kita pernah miliki masa-masa itu, sahabat. Waktu dimana kita berjalan beriringan. Dan ingatlah tentang kebersamaan yang kita jalani. Tertawa, bersedih, bernyanyi, berlari, berduka, bahkan berdoa bersama.
Tapi seiring gelombang putaran waktu semuanya berubah, karena memang itulah hukum alam. Segala sesuatunya pasti berubah, tanpa lebih dulu bertanya
siapkah kita menyambut perubahan itu.
Dan kita seperti saling melupakan satu sama lain, karena ada hal yang lebih berharga yang kita cari.
Tapi di saat kita menyadari perubahan itu, sudah terlambat. Karena masing-masing dari kita telah memencarkan diri dan di saat kita sadar bahwa kita tinggal seorang diri, semua sudah si-sia.
Karena tak ada seorang pun yang tinggal.Dan saat kesendirian itu adalah saat-saat terpahit, yang dengan mengingat segala keindahan lalu-nya, kita seperti sedang menjerat leher sendiri
Tapi seiring gelombang putaran waktu semuanya berubah, karena memang itulah hukum alam. Segala sesuatunya pasti berubah, tanpa lebih dulu bertanya
siapkah kita menyambut perubahan itu.
Dan kita seperti saling melupakan satu sama lain, karena ada hal yang lebih berharga yang kita cari.
Tapi di saat kita menyadari perubahan itu, sudah terlambat. Karena masing-masing dari kita telah memencarkan diri dan di saat kita sadar bahwa kita tinggal seorang diri, semua sudah si-sia.
Karena tak ada seorang pun yang tinggal.Dan saat kesendirian itu adalah saat-saat terpahit, yang dengan mengingat segala keindahan lalu-nya, kita seperti sedang menjerat leher sendiri
Tinta Hampa
Duri-duri mengitari sekeliling namun mawar merekah indah.
Di tengah aroma busuk Raflesia Arnoldi mengahrumkan namanya.
Seperti itu pula-lah aku ingin bertahan.
Hidupku tak pernah seindah cerita negeri dongeng.
Jalanku tak semulus dessert-high-way.
Sinar mata ku tak lebih dari sorotan yang terendap.
Dunia bukan milikku, tapi tiap detik yang ku jalani itulah harta berhargaku yang tak sanggup ku tebus tuk bisa kembali & memperbaikinya.
Aku tak punya pa-apa. Aku bukan siapa-siapa.
Namun sebelum nafas terakhirku inginku ukir namaku pada wajah dunia, walau pun tak besar, namun terkenang indah, setidaknya ada jejak yang ku tinggalkan di sana.
Di tengah aroma busuk Raflesia Arnoldi mengahrumkan namanya.
Seperti itu pula-lah aku ingin bertahan.
Hidupku tak pernah seindah cerita negeri dongeng.
Jalanku tak semulus dessert-high-way.
Sinar mata ku tak lebih dari sorotan yang terendap.
Dunia bukan milikku, tapi tiap detik yang ku jalani itulah harta berhargaku yang tak sanggup ku tebus tuk bisa kembali & memperbaikinya.
Aku tak punya pa-apa. Aku bukan siapa-siapa.
Namun sebelum nafas terakhirku inginku ukir namaku pada wajah dunia, walau pun tak besar, namun terkenang indah, setidaknya ada jejak yang ku tinggalkan di sana.
Di Tapal Batu yang Baru
Siapa yang akan tahu hari esok apa yang akan terjadi? Tak ada yang bisa menebak.
Tiap detik seharusnya sangat berarti, tetapi begitu mudah terlewati tanpa arti. Tersisa tanpa makna, terbuang lepas tanpa bekas.
Aku tak pernah mengira aku bisa sampai di tempat ini. Dunia ku yang semula sempit kini mulai menapak lebih jauh, dan sesuai harapanku, aku ingin selangkah ke depan. Manusia selalu punya keinginan dan tujuan. Itulah yang membuat kita bertahan. Mausia bisa hidup tanpa makan, tapi takkan pernah mampu hidup tanpa harapan.
Aku tak pernah meminta pada Allah atas ap yang kumau, tapi aku selalu mendapatkan lebih dari apa yang ku harapkan.
Otakku beku, hatiku sekeras batu.
Orang tuaku tak pernah mengajari aku tuk bermanja-manja dengan waktu.
Dan beruntunglah aku dengan tempaan itu.
Hidupku tak seelok dunia dongeng, tak seindah taburan bunga di taman surga.
Tapi cukup bagiku, bagaikan aliran sungai yang punya jalan dengan berbagai liku dan rintangan, tapi terus melaju sebelum sampai ke muara.
Aku membingkai diri dengan mimpi.
Aku menatap dengan penuh harap.
Namun aku melangkah di atas realitas.
Semua ada akhirnya, begitu pun rasa gundah yang sekarang ada
Rasa sedih takkan pernah mengembalikan sesuatu yang hilang & semua yang telah pergi.
Tiap detik seharusnya sangat berarti, tetapi begitu mudah terlewati tanpa arti. Tersisa tanpa makna, terbuang lepas tanpa bekas.
Aku tak pernah mengira aku bisa sampai di tempat ini. Dunia ku yang semula sempit kini mulai menapak lebih jauh, dan sesuai harapanku, aku ingin selangkah ke depan. Manusia selalu punya keinginan dan tujuan. Itulah yang membuat kita bertahan. Mausia bisa hidup tanpa makan, tapi takkan pernah mampu hidup tanpa harapan.
Aku tak pernah meminta pada Allah atas ap yang kumau, tapi aku selalu mendapatkan lebih dari apa yang ku harapkan.
Otakku beku, hatiku sekeras batu.
Orang tuaku tak pernah mengajari aku tuk bermanja-manja dengan waktu.
Dan beruntunglah aku dengan tempaan itu.
Hidupku tak seelok dunia dongeng, tak seindah taburan bunga di taman surga.
Tapi cukup bagiku, bagaikan aliran sungai yang punya jalan dengan berbagai liku dan rintangan, tapi terus melaju sebelum sampai ke muara.
Aku membingkai diri dengan mimpi.
Aku menatap dengan penuh harap.
Namun aku melangkah di atas realitas.
Semua ada akhirnya, begitu pun rasa gundah yang sekarang ada
Rasa sedih takkan pernah mengembalikan sesuatu yang hilang & semua yang telah pergi.
Pengais Jalan Rantau
Sepotong jiwa di ranah rantau.
Mengais hidup di lorong-lorong sempit waktu. Sesak terjebak dalam pusaran kenyataan. Terjerembab di tanah asing dan memanggul kewajiban. Kewajiban tuk bangkit, menatap matahari. Kewajiban tuk berlari meski tulang dan sendi-sendi kaki menjerit pedih.
Kewajiban tuk setegar tameng dan benteng, meski rasa luruh rapuh.
Dan bangkitlah.
Atau jiwa-jiwa buas itu akan menginjak-injak tubuh lemahmu.
Dan berlarilah.
Atau harus kau serahkan dirimu pada terkaman waktu.
Dan tegarlah.Atau kau hanya seonggok raga tanpa jiwa.
Mengais hidup di lorong-lorong sempit waktu. Sesak terjebak dalam pusaran kenyataan. Terjerembab di tanah asing dan memanggul kewajiban. Kewajiban tuk bangkit, menatap matahari. Kewajiban tuk berlari meski tulang dan sendi-sendi kaki menjerit pedih.
Kewajiban tuk setegar tameng dan benteng, meski rasa luruh rapuh.
Dan bangkitlah.
Atau jiwa-jiwa buas itu akan menginjak-injak tubuh lemahmu.
Dan berlarilah.
Atau harus kau serahkan dirimu pada terkaman waktu.
Dan tegarlah.Atau kau hanya seonggok raga tanpa jiwa.
aKu iNi sAmPaH......
Hidup bukanlah apa yang kita inginkan, tapi apa yang harus kita jalani. Semuanya adalah pilihan. Kadang kita dihadapkan pada pilihan yang menurut kita sulit.
Hidup punya banyak jalan & pilhan, milyaran atau apalah itu namanya untuk menyebut satuan jumlah yang tak terhitung.
Apa yang kita inginkan seringkali tak sejalan dengan kenyataan yang kita hadapi dan kita jalani. Tapi itulah kehidupan, jika semuanya harus begitu mudah, takkan ada yang namanya perjuangan. Tak ada yang namanya pengorbanan.
Jika semua bait dalam lembaran kehidupan hanyalah kebhagiaan, dimana akan ada tangis, kapan akan ada air mata, dan bagaimana sedih akan tercipta.
Semua itu sudah ada yang mengatur, dan kemarahan kita pada apa yang menimpa kita, akankah merubah segalanya menjadi lebih baik, menjadi sesuai apa yang kita inginkan..?
Amarah kita pada apa yang tak bisa kita raih hanya akan memperkosa keikhlasan yang sedang kita tanamkan, dan selalu kita belai jiwa kita dengan berusaha memantapkannya.
Aku selalu berbincang dengan hatiku, menghiburnya saat ia tak lagi mampu hanya untuk sekedar berdiri. Ku katakana padanya “tenang, Allah sedang berbicara pada kita tentang sabar, dan ikhlas. Dan pada akhirnya nanti kita kan bersama-sama mengecap manisnya ihsan dalam jiwa.”
Meskipun jarang sekali aku mampu meyakinkannya, dan ia lebih sulit untuk ku kontrol akhir-akhir ini, dimana emosinya sedang memuncak. Ia memberontak padaku, ia marah, ia memprotesku. Ia mulai berteriak padaku, mencoba mengoyak kedamaian yang kutaburkan dan sedang ku semaikan.
Ia bertanya kenapa aku hanya diam. Ia berteiak dan memaksaku berteriak bersamanya. Dan pada batas puncakku aku hanya akan merasakan sakit di belahan otakku yang mengalirkan air mata ku. Air mata yang tak cukup mampu menurunkan suhu ledakan emosi jiwaku.
Air mata yang hanya memberikan sebuah cermin betapa lemahnya aku. Air mata yang takkan ada satu pun yang mau menatapnya mengalir, apalagi untuk menghapusnya. Hanya aku yang merasakannya sendiri.
Hanya aku yang harus tersudutkan. Hanya aku yang bodoh. Memang, mereka bilang aku dungu. Tapi aku bukan keledai. Kalian bisa panggil aku manusia. Aku punya apa yang kalian punya, dan aku bisa merasakan apa yang bisa kalian rasakan juga.
Saat kalian merasa begitu tak berharga saat tak ada satu pun yang membela kalian saat seluruh isi dunia bersekutu menyudutkan kalian, aku merasakan hal yang sama juga pada diriku. Bahkan aku pernah menyebut diriku ini sampah…!
Hidup punya banyak jalan & pilhan, milyaran atau apalah itu namanya untuk menyebut satuan jumlah yang tak terhitung.
Apa yang kita inginkan seringkali tak sejalan dengan kenyataan yang kita hadapi dan kita jalani. Tapi itulah kehidupan, jika semuanya harus begitu mudah, takkan ada yang namanya perjuangan. Tak ada yang namanya pengorbanan.
Jika semua bait dalam lembaran kehidupan hanyalah kebhagiaan, dimana akan ada tangis, kapan akan ada air mata, dan bagaimana sedih akan tercipta.
Semua itu sudah ada yang mengatur, dan kemarahan kita pada apa yang menimpa kita, akankah merubah segalanya menjadi lebih baik, menjadi sesuai apa yang kita inginkan..?
Amarah kita pada apa yang tak bisa kita raih hanya akan memperkosa keikhlasan yang sedang kita tanamkan, dan selalu kita belai jiwa kita dengan berusaha memantapkannya.
Aku selalu berbincang dengan hatiku, menghiburnya saat ia tak lagi mampu hanya untuk sekedar berdiri. Ku katakana padanya “tenang, Allah sedang berbicara pada kita tentang sabar, dan ikhlas. Dan pada akhirnya nanti kita kan bersama-sama mengecap manisnya ihsan dalam jiwa.”
Meskipun jarang sekali aku mampu meyakinkannya, dan ia lebih sulit untuk ku kontrol akhir-akhir ini, dimana emosinya sedang memuncak. Ia memberontak padaku, ia marah, ia memprotesku. Ia mulai berteriak padaku, mencoba mengoyak kedamaian yang kutaburkan dan sedang ku semaikan.
Ia bertanya kenapa aku hanya diam. Ia berteiak dan memaksaku berteriak bersamanya. Dan pada batas puncakku aku hanya akan merasakan sakit di belahan otakku yang mengalirkan air mata ku. Air mata yang tak cukup mampu menurunkan suhu ledakan emosi jiwaku.
Air mata yang hanya memberikan sebuah cermin betapa lemahnya aku. Air mata yang takkan ada satu pun yang mau menatapnya mengalir, apalagi untuk menghapusnya. Hanya aku yang merasakannya sendiri.
Hanya aku yang harus tersudutkan. Hanya aku yang bodoh. Memang, mereka bilang aku dungu. Tapi aku bukan keledai. Kalian bisa panggil aku manusia. Aku punya apa yang kalian punya, dan aku bisa merasakan apa yang bisa kalian rasakan juga.
Saat kalian merasa begitu tak berharga saat tak ada satu pun yang membela kalian saat seluruh isi dunia bersekutu menyudutkan kalian, aku merasakan hal yang sama juga pada diriku. Bahkan aku pernah menyebut diriku ini sampah…!
Langganan:
Postingan (Atom)